Yuliandri, SKM, M.Kes

Juni 2017 s/d 12 September 2020
Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Master Kesehatan di Universitas...

Menakhodai Perubahan: Kisah Yuliandri, SKM, M.Kes dalam Arus Reformasi Birokrasi

Pada Juni 2017, sebuah langkah baru dimulai di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Sabang. Sosok Yuliandri, SKM, M.Kes hadir membawa pengalaman berharga dari dinamika KKP Kelas I Soekarno-Hatta—salah satu gerbang tersibuk di Indonesia—menuju ujung utara nusantara. Namun, kedatangan beliau bukan hanya untuk menjaga rutinitas, melainkan untuk mengawal salah satu babak paling menantang dalam sejarah organisasi: reformasi struktur birokrasi.

Sang Arsitek di Masa Transisi

Masa jabatan Pak Yuliandri menjadi titik balik di mana efisiensi mulai ditekankan secara mendalam. Beliau dihadapkan pada mandat perubahan struktural yang cukup drastis. Awalnya, KKP Kelas III memiliki formasi yang cukup lengkap dengan empat pilar jabatan utama: Kepala Kantor, Ka.Sub.Bag. Tata Usaha, Kasi PKSE (Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi), serta Kasi PRL KLW (Pengendalian Risiko Lingkungan dan Kesehatan Lintas Wilayah).

Namun, kebijakan baru mengharuskan struktur tersebut dipangkas menjadi hanya dua jabatan saja: seorang Kepala dan seorang Ka.Sub.Bag. Perampingan ini bukan sekadar urusan coretan di atas kertas, melainkan sebuah "PR besar" yang menyentuh sisi manusiawi organisasi.

Seni Membujuk dan Menata Hati

Tantangan terberat Pak Yuliandri adalah meyakinkan para pejabat struktural lama untuk bersedia melepas jabatan mereka dan beralih ke Jabatan Fungsional. Proses ini memerlukan seni diplomasi dan bujukan yang besar. Tidak mudah untuk mengubah pola pikir yang sudah mapan, namun beliau terus berusaha memberikan pemahaman bahwa masa depan birokrasi terletak pada keahlian fungsional.

Di masa inilah, diperkenalkan pula Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) untuk menggantikan Jabatan Fungsional Umum (JFU). Beliau menjadi jembatan bagi para pegawai untuk melintasi masa transisi tersebut, memastikan bahwa meski struktur meramping, kinerja dan kesejahteraan pegawai tetap terjaga.

Diplomasi di Meja Makan: Sang "Raja" yang Humoris

Di luar urusan regulasi yang kaku, Pak Yuliandri adalah sosok yang sangat membumi dan mudah diajak berdiskusi. Namun, ada satu sisi unik yang selalu mengundang senyum bagi siapa pun yang pernah bekerja bersamanya: ritual makan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa beliau adalah seorang penikmat kuliner sejati dengan selera makan yang luar biasa lahap. Lucunya, beliau sering kali memulai dengan "protes" kecil atau daftar penolakan panjang tentang makanan tertentu. Namun, begitu piring-piring sudah tersaji di depan mata, segala daftar pantangan itu seolah menguap begitu saja. Beliau akan berubah menjadi "raja makan" yang menuntaskan hidangan dengan penuh semangat. Momen-momen inilah yang sering mencairkan ketegangan kantor; melihat sang pemimpin yang sebelumnya serius berdiskusi tentang struktural, kini begitu menikmati hidangan dengan penuh suka cita.

Menuju Pusat Pengabdian

Setelah tiga tahun lebih melewati masa-masa perjuangan dalam menata organisasi, pengabdian Pak Yuliandri di Sabang berakhir pada September 2020. Rekam jejak keberhasilannya dalam mengelola transisi jabatan di Sabang membawa beliau menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Beliau pun dipindahkan ke kantor pusat, tepatnya di Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Pak Yuliandri melangkah pergi meninggalkan Sabang dengan sebuah warisan organisasi yang lebih ramping, lebih profesional, dan memori tentang seorang pemimpin yang mampu menyatukan kepentingan dinas dengan kehangatan rasa kekeluargaan.