Drs. Marwazy

Maret 2008 - Juli 2011
Lulusan ....

Sang Pionir dari Sabang: Jejak Langkah Drs. Marwazy dalam Sejarah KKP

Di sebuah kota di ujung barat Indonesia, di mana ombak Selat Malaka bertemu dengan semangat pengabdian, tersebutlah sebuah nama yang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah kesehatan pelabuhan: Drs. Marwazy. Beliau bukan sekadar pemimpin; beliau adalah akar yang memungkinkan sebuah pohon besar bernama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Sabang tumbuh dan tegak berdiri.

Fajar Sebelum Terbit: Era Instalasi dan Para Pejuang Awal

Kisah Pak Marwazy dimulai jauh sebelum gedung megah berdiri. Pada tahun 2004, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 265, KKP saat itu masih berupa "Instalasi"—sebuah unit non-struktural di bawah naungan Dinas Kesehatan Daerah. Meski memiliki "karpet merah" atau jalur koordinasi langsung ke Dirjen PPM & PL di pusat, KKP masa itu masih berjuang mencari jati diri.

Di masa-masa awal yang penuh keterbatasan ini, Pak Marwazy bekerja bahu-membahu dalam sebuah tim kecil yang dipimpin oleh Pak Jalil. Bersama Pak Fauzi dan Pak Syamsuddin, mereka adalah para penjaga gerbang kesehatan yang bekerja tanpa sekat jabatan formal. Mereka adalah cikal bakal, embrio yang mempersiapkan segalanya untuk hari yang lebih besar.

Kelahiran KKP Kelas III Sabang

Perubahan besar itu akhirnya tiba melalui Permenkes Nomor 167 tahun 2007. KKP ditetapkan menjadi institusi yang berdiri sendiri secara struktural. Sabang menjadi satu dari 48 kantor di seluruh Indonesia yang mendapat mandat tersebut. Pada 1 Mei 2007, sebuah gedung baru hasil pembangunan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias resmi berdiri, menjadi simbol harapan baru setelah masa sulit.

Seiring purnatugasnya Pak Jalil, estafet kepemimpinan jatuh ke tangan Drs. Marwazy. Terhitung sejak Maret 2008, beliau resmi dilantik sebagai Kepala Kantor pertama. Di pundaknya, visi besar KKP Kelas III Sabang mulai dijalankan.

Membangun Pasukan: Dari Tiga Menjadi Keluarga Besar

Awal masa kepemimpinannya adalah ujian kesabaran. Pak Marwazy hanya memiliki dua "panglima" setia: Pak Fauzi dan Pak Syamsuddin. Namun, keterbatasan personel tidak membuatnya patah arang. Beliau mulai membuka gerbang bagi generasi-generasi muda untuk bergabung.

Secara bertahap, beliau menyusun "puzzle" kekuatan personel melalui empat gelombang rekrutmen yang bersejarah:

* Januari 2008: Lahirlah generasi pertama yang diisi oleh Budimanto, Resa Meilinar, Armiati, Budi Fadhli, dan Muhammad Dani.

* Desember 2008: Bergabungnya Sabri dan Elisawati.

* Desember 2009: Kekuatan bertambah dengan hadirnya Ali Imron, Mulyadi, Susilawati, dan Dian Purnasari.

* Desember 2010: Melengkapi barisan, hadir Muhammad Yasir, Gema Eka Putra, Rita Rahayu, Lilis Suryani, Maisarah Friza, dan Nur Afni Mutia.

Dengan bertambahnya personel, Pak Marwazy akhirnya bisa "bernapas lega". Tugas-tugas kantor yang semula menumpuk kini bisa didistribusikan secara merata. Di tangan beliau, orang-orang ini bukan sekadar pegawai, melainkan sebuah keluarga besar.

Sosok "Kakak" di Mata CIQP dan Pemimpin yang Bersahaja

Di luar kantor, Pak Marwazy adalah diplomat ulung. Beliau mendedikasikan energinya untuk memperkenalkan tugas dan fungsi KKP kepada instansi lain. Keberhasilannya membangun sinergi dengan tim CIQP (Custom, Imigration, Quarantine, Port Authority) sangatlah ikonik.

Saking disegani dan dicintainya, KKP di bawah kepemimpinannya sering dijuluki sebagai "Si Kakak" oleh instansi lain. Ada sebuah kalimat yang melegenda di pelabuhan saat itu: "Selama Kakak belum menurunkan bendera kuning, kita tidak boleh masuk ke kapal itu!" KKP selalu dituakan, bukan karena kekuasaan, melainkan karena rasa hormat dan kehangatan yang ditanamkan oleh Pak Marwazy.

Di mata bawahannya, beliau adalah sosok yang sangat humble dan pengertian. Prinsip kerjanya sederhana namun efektif: "Pekerjaan penting harus selesai. Apa yang harus dikerjakan hari ini, kerjakan sekarang. Namun, jika sesuatu bisa dikerjakan besok, jangan memaksakan diri hingga melupakan kemanusiaan." Beliau memimpin dengan hati, memberikan ruang bagi pegawainya untuk tumbuh tanpa tekanan yang kaku.

Purnatugas Sang Peletak Batu Pertama

Perjalanan Drs. Marwazy sebagai nahkoda pertama berakhir pada Juli 2011. Beliau memasuki masa pensiun dengan meninggalkan warisan yang tak ternilai: sebuah kantor yang kokoh secara struktural, dihormati oleh mitra kerja, dan dicintai oleh para pegawainya.

Drs. Marwazy mungkin telah pensiun, namun bendera "Quarantine" yang beliau kibarkan dengan penuh dedikasi akan terus berkibar di pelabuhan Sabang, sebagai pengingat bahwa sebuah institusi besar selalu dimulai dari ketulusan seorang pionir.